Mengenal Pamor Keris Tosan Aji

Pamor keris adalah sebuah corak yang terdapat diantara bilah besi dalam keris yang terbuat dari material meteor ataupun nikel. jenis pamor keris ada banyak macamnya dimana tujuan dibuatnya mengandung filosofi kegunaan dari setiap motif nya contoh motif pamor yang banyak dicari adalah udan mas, banyu mili, junjung drajat, blarak sineret, buntel mayit, wahyu tumurun, wengkon dan lain lain dimana penggunaannya hampir terdapat diseluruh dapur keris seperti sengkelat, singo barong, sabuk inten, jalak ngore dan kebo lajer, para pecinta tosan aji banyak mecari pamor keris karena tuah dan juga kelangkaanya atau susah dicari. Istilah pamor pemilih maksudnya bahwa pamor ini hanya cocok untuk orang orang tertentu saja misalkan berdasarkan weton hari lahir bidang pekerjaan atau karakter yang bersangkutan, sehingga apabila tidak cocok dengan seseorang maka pusaka ini akan menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi pemiliknya.

Apa itu Pamor Miring, Mlumah, Puntiran, Luluhan, Rekan dan Tiban? 

PAMOR MIRING adalah pamor yang lapisan-lapisan saton-nya (besi-pamor-besi-pamor, dst.) melintang atau tegak lurus dengan permukaan bilah keris pusaka. Jadi, pamor miring adalah penamaan pamor ber-dasarkan teknik pembuatannya. Teknik pembuatan pamor lainnya adalah pamor mlumah. Ragam pola pamor yang bisa dibuat dengan teknik pamor miring antara lain adalah: pamor Adeg, Blarak Ngirid, Ron Genduru, Ujung Gunung, dan Raja Abala Raja. Kata ‘miring’ pada istilah pamor miring bukan berarti condong sebagaimana kalau menyebut tiang bambu miring, melainkan miring dalam artian orang tidur miring, bukan terlentang (mlumah Jw.)



pamor miring
pamor miring

PAMOR MLUMAH adalah pamor yang lapisan-lapisan satonnya (besi-pamor-besi-pamor, dst.) men-datar atau sejajar dengan permukaan bilah keris atau tosan aji lainnya. Jadi, pamor mlumah adalah penamaan salah satu teknik penempaan pada pembuatan pamor. Teknik pembuatan pamor lainnya adalah pamor miring. Ragam pola gambaran pamor yang dapat diha-silkan dengan cara penempaan pamor mlumah di anta-ranya adalah: pamor Wos Wutah, Ngulit Semangka, Udan Mas, Uler Lulut, dan Sumsum Buron.



pamor mlumah
pamor mlumah

PAMOR PUNTIRAN bisa digolongkan sebagai pamor miring. Teknik pembuatan pamorpuntiran ham-pir sama dengan pamor miring. Bedanya, sebelum disa-tukan dengan Baja inti keris, saton-nya di-puntir (dipi-lin) dahulu. Dengan teknik ini, pamor yang bisa dihasilkan dengan teknik ini antara lain: Pamor Lawe Setukel, Tunggal Kukus, dan Buntel Mayit



pamor puntiran
pamor puntiran

PAMOR LULUHAN adalah jenis pamor yang terjadi karena dalam proses pemanasan sewaktu pe-nempaan saton keris suhunya terlalu tinggi. Bahan besi dan bahan pamor terlalu menyatu erat, tidak sekedar menempel berhimpitan, sehingga batas antara besi dan pamor sukar terlihat dengan mata telanjang.
PAMOR REKAN adalah pamor yang pola gam-barannya direncanakan lebih dahulu oleh empu pem-buatnya. Biasanya, perencanaan pola pamor ini her-dasarkan atas pesanan calon pemilik keris, dan si empu tinggal merekayasa teknik pembuatannya. Contoh pamor rekan (asal kata reka-direka) atau pamor anukarta, antara lain: Pamor Udan Mas, Blarak Ngirid, Ri Wader, Naga Rangsang, Kupu Tarung, Ron Genduru, Lar Gangsir, dan Ujung Gunung. (Lihat PAMOR)
PAMOR TIBAN adalah pamor yang pola gam-barannya tidak direncanakan lebih dahulu oleh empu pembuatnya. Biasanya, si empu hanya bekerja dengan teknik dasar pembuatan pamor tanpa merekayasa bentuk pamor yang sedang dibuat, sambil terus berdoa. Bagaimanapun bentuk gambaran pamor yang akan terjadi kemudian dianggap sebagai anugerah Tuhan. Itulah sebabnya, pamor tiban jika ditinjau secara teknis selalu adalah pamor mlumah. Contoh pamor ti-ban di antaranya adalah pamor Pao Tirta, Pedaringan Kebak, Wos Wutah, Ngulit Semangka, Tunggak Semi. Dan, jenis-jenis pola pamor tiban yang dianggap balk dan langka adalah pamor Raja Gundala, Nur, Ratu Pinayungan, Slamet, dan Kendit Gumantung.

Sumber :  duniakeris.com 

Mengenal Keris dan Sejarah Asal Usul nya

KERIS adalah senjata tradisional khas Indonesia yang dalam perkembangannya budaya keris mengikuti perjalanan sejarah dan kini budaya ini telah tersebar hingga ke negara-negara lain. Selain Indonesia, negara yang kini memiliki budaya ini adalah Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand dan Di Pulau Jawa, keris digolongkan sebagai salah satu cabang budaya tosan aji.
Selain itu, karena budaya tosan aji memang bermula dan Pulau Jawa, banyak istilah perkerisan dari daerah ini yang juga digunakan di daerah-daerah lainnya. Di Pulau Jawa, juga disebut curiga, duwung, atau wangkingan. Di Pulau Bali, senjata itu disebut kadutan atau kedutan. Di daerah lain, sebutan lain di antaranya adalah tappi, selle, gayang, kres, kris atau karieh. Budaya ini sudah dikenal oleh orang Barat setidaknya sejak abad ke-17. Catatan tertua mengenai ada-nya keris di Inggris menyebutkan bahwa pada tahun 1637, sudah dimiliki oleh seorang kolektor.
Sedangkan Museum Denmark mengkoleksi keris sejak tahun 1647. Istilah keris, selain nama padanannya yang lain, digunakan oleh semua suku bangsa di Indonesia. Istilah ini bahkan juga dipakai oleh orang Brunei dan Malaysia, tetapi sebagian orang Barat ada yang masih ragu untuk memilih penggunaan kata dan ejaan keris atau kris atau kriss. Edward Frey penulis buku The Kris, Mystic Weapon of the Malay World dalam kata pengantar bukunya mengemukakan bahwa is tidak menemukan alasan untuk mengganti penulisan ejaan “kris”, yang sudah digunakan lebih 150 tahun oleh para peneliti (Barat). Disebutkan pula beberapa contoh penulis Barat yang menggunakan istilah keris, di antaranya Raffles yang memakai istilah kris sejak tahun 1817; Wallace sejak 1869; McNair sejak 1882, Groneman sejak 1910, dan sederet penulis dan peneliti Barat lainnya Penulis Barat yang menggunakan istilah kriss, juga ada, di antaranya adalah Forbes (1885); Huyser (1918); dan Buttin (1933). Sedangkan yang masih menggunakan istilah “keris”, di antaranya adalah Wolley, Hill, Gardner, dan juga Garret & Bronwen Solyom.
merupakan hasil seni tempa, yang bahan-bahannya harus terdiri dari sedikitnya dua jenis logam, tetapi yang baik dibuat dari tiga jenis logam, yaitu besi, bahan pamor, dan baja. Dengan demikian, sebuah benda yang dibuat dengan cara dicor atau dicetak tidak digolongkan sebagai keris, walaupun bentuknya persis. Selain itu, harus selalu condong ke depan, tunduk. Sebuah benda yang tegak dan lurus seperti be-lati, tidak bisa dianggap sebagai keris.

Asal usul keris
tosan aji dan senjata tradisional lainnya menjadi khasanah budaya Indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Berbagai bangunan candi batu yang dibangun pada zaman sebelum abad ke-10 membuktikan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi. Namun apakah ketika itu bangsa Indonesia mengenal budaya keris sebagaimana yang kita kenal sekarang, para ahli baru dapat meraba-raba.
Gambar timbul (relief) paling kuno yang memperlihatkan peralatan besi terdapat pada prasasti batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Melihat bentuk tuhsannya, diperkirakan prasasti tersebut dibuat pada sekitar tahun 500 Masehi. Huruf yang digunakan, huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai ada-lah bahasa Sanskerta. Prasasti itu menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih dan jernih. Di atas tulisan prasasti itu ada beberapa gambar, di antaranya: trisula, kapak, sabit kudi, dan belati atau pisau yang bentuknya amat mirip dengan buatan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari zaman Pajajaran. Ada pula terlukis kendi, kalasangka, dan bunga teratai. Kendi, dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambangkan keabadian,m sedangkan bunga teratai lambang harmoni dengan alam.
Sudah banyak ahli kebudayaan yang membahas tentang sejarah keberadaan dan perkembangan tosan aji . G.B. GARDNER pada tahun 1936 pernah berteori bahwa keris adalah perkembangan bentuk dari senjata tikam zaman prasejarah, yaitu tulang ekor atau sengatikan pan dihilangkan pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain pada tangkainya. Dengan begitu senjata itu dapat di-genggam dan dibawa-bawa. Maka jadilah sebuah senjata tikam yang berbahaya, menurut ukuran kala itu. Sementara itu GRIFFITH WILKENS pada tahun 1937 berpendapat bahwa budaya itu baru timbul pada abad ke-14 dan ke-15.
Katanya, bentuk keris merupakan pertumbuhan dari bentuk tombak yang banyak digunakan oleh bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan antara Asia dan Australia. Dari mata lembing itulah kelak timbul jenis senjata pendek atau senjata tikam, yang kemudian dikenal dengan nama keris. Alasan lainnya, lembing atau tombak yang tangkainya panjang tidak mudah dibawa ke mana-mana, sukar dibawa menyusup masuk hutan. Karena pada waktu itu tidak mudah orang mendapatkan bahan besi, mata tombak dilepas dan tangkainya sehingga menjadi senjata genggam. Lain lagi pendapat A.J. BARNET KEMPERS.
Pada tahun 1954 ahli purbakala itu menduga bentuk prototipe keris merupakan perkembangan bentuk dari senjata penusuk pada zaman perunggu. kris yang hulunya berbentuk patung kecil yang menggambarkan manusia dan menyatu dengan bilahnya, oleh Barnet Kempers tidak dianggap sebagai barang yang luar biasa. Katanya, senjata tikam dari kebudayaan perunggu Dongson juga berbentuk mirip itu. Hulunya merupakan patung kecil yang menggambarkan manusia sedang berdiri sambil berkacak pinggang (malangkerik, bahasa Jawa). Sedangkan senjata tikam kuno yang pernah ditemukan di Kalimantan, pada bagian hulunya juga distilir dari bentuk orang berkacak pinggang. Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu dapat dibandingkan dengan perkembangan bentuk senjata di Eropa Di benua itu, dulu, pedang juga distilir dari bentuk manusia dengan kedua tangan terentang lurus ke samping. Bentuk hulu pedang itu, setelah menyebarnya agama Kristen, dikembangkan menjadi bentuk yang serupa salib.
Dalam kaitannya dengan bentuk keris di Indonesia, hulu yang berbentuk manusia (yang distilir), ada yang berdiri, ada yang membungkuk, dan ada pula yang berjongkok. Bentuk ini serupa dengan patung megalitik yang ditemukan di Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam perkembangan kemudian, bentuk-bentuk itu makin distilir lagi dan kini menjadi bentuk hulu keris (Di Pulau Jawa disebut deder, jejeran, atau ukiran) dengan ragam hias cecek, patra gandul, patra ageng, umpak-umpak, dan sebagainya. Dalam sejarah budaya kita, patung atau arca orang berdiri dengan agak membungkuk oleh sebagian ahli di-artikan sebagai lambang orang coati. Sedangkan patung yang menggambarkan manusia dengan sikap sedang jongkok dengan kaki ditekuk, dianggap melambangkan kela-hiran, persalinan, kesuburan, atau kehidupan.
Sama dengan sikap bayi atau janin dalam kandungan ibunya. Ada sebagian ahli bangsa Barat yang tidak yakin bahwa keris sudah dibuat di Indonesia sebelum abad ke-14 atau ke-15. Mereka mendasarkan teorinya pada kenyataan bahwa tidak ada gambar yang jelas pada relief candi-can-di yang dibangun sebelum abad ke-10. SIR THOMAS STAM-FORD RAFFLES dalam bukunya History of Java (1817) mengatakan bahwa tidak kurang dari 30 jenis senjata yang dimiliki dan digunakan oleh prajurit Jawa waktu itu termasuk senjata api, tetapi dari aneka ragam senjata itu, keris menempati kedudukan yang istimewa. Disebutkan dalam bukunya itu bahwa prajurit Jawa pada umumnya menyandang tiga buah sekaligus.
tosan aji yang dikenakan di pinggang sebelah kiri berasal dari pem-berian mertua waktu pernikahan (dalam budaya Jawa disebut kancing gelung). Keris yang dikenakan di pinggang kanan berasal dari pemberian orangtuanya sendiri. Selain itu berbagai tata cara dan etika dalam dunia perkerisan juga termuat dalam buku Raffles itu. Sayangnya dalam buku yang terkenal itu, penguasa Inggris itu tidak menyebut-nyebut tentang sejarah dan asal usul budaya keris. Sementara itu istilah `keris’ sudah dijumpai pada be-berapa prasasti kuno. Lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah, berangka tahun 748 Saka, atau 842 Masehi, menyebut-nyebut beberapa jenis sesaji untuk menetapkan Poh sebagai daerah bebas pajak. Sesaji itu antara lain berupa kres, wangkiul, tewek punukan, wesi penghatap. Sedangkan wangkiul adalah sejenis tombak; tewek punukan adalah senjata bermata dua, semacam dwi-sula.
Pada lukisan gambar timbul (relief) Candi Borobudur, Jawa Tengah, di sudut bawah bagian tenggara, tergambar beberapa orang prajurit yang membawa senjata tajam yang serupa dengan keris yang kita kenal sekarang. Di Candi Prambanan, Jawa Tengah, juga tergambar pada reliefnya, raksasa yang membawa senjata tikam yang serupa benar dengan keris. Di Candi Sewu, dekat Candi Prambanan, juga ada arca raksasa penjaga, yang menyelipkan sebilah senjata tajam, mirip keris. Sementara itu, edisi pertama dan kedua yang disusun oleh Prof. P.A. VAN DER Lint menyebutkan, sewaktu stupa induk Candi Borobudur, yang dibangun tahun 875 Masehi, itu dibongkar, ditemukan sebilah kris tua.
Keris itu menyatu antara bilah dan hulunya. Tetapi bentuk itu tidak serupa dengan bentuk keris yang tergambar pada relief candi. Keris temuan ini kini tersimpan di Museum Ethnografi, Leiden, Belanda. Keterangan me-ngenai keris temuan itu ditulis oleh Dr. H.H. JUYNBOHL dalam Katalog • Kerajaan (Belanda) jilid V, tahun 1909. Di katalog itu dikatakan bahwa keris itu tergolong `keris Maja-pahit`, hulunya berbentuk patung orang, bilahnya sangat tua. Salah satu sisi bilah telah rusak. Keris, yang diberi nomor seri 1834 itu adalahpemberian G.J. HEYLIGERS, sekretaris kantor Residen Kedu, pada bulan Oktober 1845. Yang menjadi residennya pada waktu itu adalah Hartman. Ukuran panjang bilah keris temuan itu 28.3 cm, panjang hulunya 20,2 cm, dan lebarnya 4,8 cm. Bentuknya lurus, tidak memakai luk.
Mengenai keris ini, banyak yang menyangsikan apakah sejak awalnya memang telah diletakkan di tengah lubang stupa induk Candi Borobudur. Barnet Kempres sendiri menduga keris itu diletakkan oleh seseorang pada masa-masa kemudian, jauh hari setelah Candi borobudur selesai dibangun. Jadi bukan pada waktu pembangu-nannya. Ada pula yang menduga bahwa budaya ini sudah berkembang sejak menjelang tahun 1.000 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas laporan seeorang musafir Cina pada tahun 922 Masehi. Jadi laporan itu dibuat kira-kira zaman Kahuripan berkembang di tepian Kali Brantas, Jawa Timur. Menurut laporan itu, ada seseorang Maharaja Jawa menghadialikan kepada Kaisar Tiongkok “a short swords with hilts of rhinoceros horn or gold (pedang pendek dengan hulu terbuat dari cula badak atau emas).
Bisa jadi pedang pendek yang dimaksud dalam laporan itu adalah prototipe seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur clan Prambanan. Sebilah kerns yang ditandai dengan angka tahun pada bilahnya dtmiliki oleh seorang Belanda bernama Knaud cli Batavia (pada zaman Belanda dulu). Pada bilah itu selain terdapat gambar timbul wayang, juga berangka tahun Saka 1264, atau 1324 Masehi. Jadi kira-kira sezaman dengan saat pembangunan Candi Penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur. Pada candi ini memang terdapat patung raksasa Kala yang menyandang kris pendek lurus. Gambar yang jelas mengenai keris dijumpai pada sebuah patung Siwa yang berasal dari zaman Kerajaan Singasari, pada abad ke-14.
Digambarkan Dewa Siwa sedang memegang keris panjang di tangan kanannya. Jelas ini bukan tiruan patung Dewa Siwa dad India, karena di India tak pernah ditemui patung Siwa memegang kris. Patung itu kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Pada zaman-zaman berikutnya, makin banyak candi yang dibangun di Jawa Timur, yang memiliki gambaran keris pada dinding reliefnya. Misalnya pada Candi Jago atau Candi Jajagu, yang dibangun pada tahun 1268 Masehi. Di candi itu terdapat relief yang menggambarkan Pandawa (tokoh wayang) sedang bermain dadu. Punakawan yang dilukis di belakangnya digambarkan sedang membawa keris. Begitu pula pada candi yang terdapat di Tegalwangi, Pare, dekat Kediri, dan Candi Panataran. Pada kedua candi itu tergambar relief tokoh-tokoh yang memegang keris. Cerita mengenai keris yang lebih jelas dapat dibaca dari laporan seorang musafir Cina bernama Mn HUAN.
Dalam laporannya Yingyai Sheng-lan di tahun 1416 Masehi, ia menuliskan pengalam-annya sewaktu mengunjungi Kerajaan Majapahit. Ketika itu ia datang bersama rombongan Laksa-mana Cheng-ho atas perin-tah Kaisar Yen Tsung dart dinasti Ming. Di Majapahit, Ma Huan menyaksikan bahwa hampir scmua lelaki di negeri itu memakai pulak, sejak masih kanak-kanak, bahkan sejak berumur tiga tahun. Yang disebut pulak oleh Ma Huan adalah semacam belati lurus atau berkelok-kelok. Jelas yang dimaksud adalah keris. Kata Ma Huan dalam laoparan itu: These daggers have very thin stripes and within flowers and made of very best steel; the handle is of gold, rhinoceros, or ivory, cut into the shape of human or devil faces and finished carefully. Laporan ini membuktikan bahwa pada zaman itu telah dikenal teknik pembuatan senjata tikam dengan hiasan pamor dengan gambaran gads-garis amat tipis serta bunga-bunga keputihan. Senjata ini dibuat dengan baba berkualitas prima. Pegangannya, atau hulunya, terbuat dan emas, cula badak, atau gading. Tak pelak lagi, tentunya yang dimaksudkan Ma Huan dalam laporannya adalah keris yang kita kenal sekarang ini.
Gambar timbul mengenai cara pembuatan dapat disaksikan di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada candra sengkala memet di candi itu terbaca angka tahun 1316 Saka atau 1439 Masehi. Cara pembuatan keris yang digambarkan di candi itu tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris pada zaman sekarang, baik peralatan kerja, palu dan ububan, maupun hasil karyanya berupa keris, tombak, kudi, dan lain sebagainya.

Sumber :  duniakeris.com

Mengenal Jenis Besi Keris Tosan Aji

Mengenal Jenis Besi Keris Tosan Aji Beserta Tuah Khasiatnya 
JENIS BESI adalah unsur logam terpenting dalam pembuatan keris, tombak, pedang, dan senjata tradisional lainnya. Berbeda dengan bangsa lain, bangsa Indonesia mengenal berbagai macam logam besi praktis tanpa melalui zaman perunggu. Itulah sebabnya di Indonesia banyak ditemukan berbagai perkakas terbuat dari besi, namun jarang yang terbuat dari perunggu. Ditemukannya pasir besi di banyak tempat di Pulau Jawa membuat sebagian penduduknya menjadi penempa yang mahir. Seni tempa di Indonesia tidak mungkin memiliki kualitas tinggi seperti yang kita kenal sekarang, Maka tidak tersedia bahan baku yang cukup banyak.
Pengetahuan orang Jawa menyangkut soal besi tidak terbatas pada ilmu menempa saja, tetapi juga dalam membedakan macam jenis senyawa besi yang satu dan jenis besi yang lainnya. Ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan modern, ilmu orang Jawa menyangkut soal mineral besi memang tidak tergolong ilmiah. Ilmu besi orang Jawa tidak menggunakan ukuran dan tolok ukur yang bersifat sains, melainkan mengandalkan kepekaan perasaan dan pancaindra. Orang Jawa zaman dulu membedakan berbagai jenis besi dengan cara mengamati, mendengar bunyinya bila dijentik, dengan merabanya, dan dengan perasaan hatinya. Karena itulah ilmu besi tradisional ini sukar dipelajari dan sulit dibuat catatannya.
Raden Ngabehi Ronggowarsito, pujangga besar Kenton Surakarta pada abad ke-19 juga mencoba membuat catatan mengenai berbagai jenis besi bahan tosan aji yang dikenal oleh para ahli keris di Surakarta. Walaupun ditulis seorang pujangga, catatan itu pun masih sulit dimengerti. Berikut ini adalah pembagian jenis besi menurut Serat Wesiaji terbitan De Blik-sem, Solo tahun 1982.
  1. Besi Karangkijang adalah besi yang urat-uratnya seperti air lautan. Inilah pendetanya besi; berwarna hitam kebiru-biruan; jika dijentik berbunyi ambrenge-ngeng seperti suara lebah terbang. Tuah besi ini dingin dan ampuh.
  2. Besi Pulasani adalah besi yang urat-uratnya seperti batu asih , warnanya hijau keperakan (nyamberlilen – bahasa Jawa); jika dijentik akan berbunyi: Gum.. Tuahnya tulus, membawa rejeki dan derajat, baik digunakan sebagai bahan pusaka.
  3. Besi Mengangkang adalah besi yang urat-uratnya polos, warnanya hitam keunguan. Jenis besi ini ada dua macam: Mengangkang laki-laki jika dijentik bunyinya. Drungngng… (panjang gemanya). Tuahnya baik sekali, yakni menambah wibawa. Mengangkang perempuan jika dijentik bunyinya ambrengengeng seperti suara lebah terbang. Tuahnya yakni disayang orang sekelilingnya dan membawa rejeki.
  4. Besi Walulin, adalah besi yang urat-uratnya seperti pasir malela (ada kristal mengkilat yang membayang di permukaan), warnanya kebiruan, kalau dijentik bunyinya: Gung bergetar, penampilannya akas (berkesan kering). Tuahnya yakni dihormati orang banyak, baik untuk beternak.
  5. Besi Katub adalah besi yang urat-uratnya seperti rambut, warnanya hitam kehijauan, mengkilat; kalau dijentik bunyinya: Kung, ambrengengeng seperti Iebah terbang. Tuahnya yakni untuk kekebalan dan baik untuk pedagang.
  6. Besi Kamboja adalah besi yang warnanya keputihan, urat-uratnya seperti gadung gemerlapan; jika dijentik bunyinya: Tong ngong… nging panjang. Inilah “putri”-nya besi; Pemiliknya tidak boleh berzina. Tuahnya yakni dihormati orang banyak.
  7. Besi Welangi adalah besi yang katanya berasal dari lautan, warnanya kuning agak kehijauan, kalau dijentik bunyinya: Nging…ambrengengeng seperti suara Iebah terbang. Tuahnya untuk keselamatan dan mudah mencari rezeki, tetapi tidak boleh membungakan uang.
  8. Besi Ambal adalah besi yang berwarna kebiruan agak kemerahan, yang konon berasal dari batu gunung. Kalau dijentik, bunyinya ambrengengeng bergetar. Jika dipakai sebagai bahan pembuatan keris, besi withal ampuh dan bisa `menarik pusaka lainnya.
  9. Besi Tumpang adalah besi yang digelari `kuncinya besi. Warnanya biro agak keunguan; jika dijentik bunyinya: Jrung… gaungnya panjang. Tuahnya baik untuk kesaktian dan kewibawaan.
  10. Besi Windudadi adalah besi yang konon berasal dari tenggorokan Sang Hyang Mudikbatara. warna-nya putih dan biru bagaikan kaca , kalau dijentik bunyinya: Dung… Tuahnya untuk kekuatan dan keteguhan, tidak tenggelam di air .
  11. Besi Werani adalah besi yang konon berasal dari Gunung Srandil, warnanya hitam keunguan bagaikan bunga teleng. Kalau dijentik bunyinya: ambrengengeng bagai suara lebah terbang. Tuahnya sangat ampuh; kalau pemiliknya tergolong kuat, pangkat dan derajatnya akan cepat meningkat; kalau tak kuat, malah menyebabkan melarat.
  12. Besi Terate adalah besi yang warnanya hitam seolah berlumut, konon berasal dari batu asih. Kalau dijentik bunyinya ambrengengeng bagai suara lebah terbang. Tuahnya jauh dati fitnah dan mudah didekati wanita.
  13. Besi Malela Ruyun adalah konon berasal dari batu cendani , warnanya putih agak kebiruan , berserat seperti rambut. Kalau dijentik bunyinya: Preng… bergetar. Tuahnya untuk menambah keberanian dan keteguhan iman.
  14. Besi Balitung ada dua jenis. Yang baik, besinya berasal dari batu, benwarna hitam agak ungu pekat. Jika dijentik bunyinya: Ting… panjang. Tuahnya baik untuk nelayan. Sedangkan yang buruk warnanya agak kotor, dan jika dijentik bunyinya: Ngeng, pendek. Tuahnya buruk menyebabkan melarat.
  15. Besi Kenur adalah besi yang benwarna hitam mengkilat bagai bulu burung gagak. Jika dijentik bunyinya: Srung… ambrengengeng. Tuahnya baik untuk pedagang dan menyimpan uang.
  16. Besi Malela Kendaga juga disebut besi Loya; jika dijentik bunyinya: Tung…Tuahnya baik untuk menambah keberanian dan menjaga keteguhan iman.
  17. Besi Tumbuk, adalah besi yang konon berasal dari Sailan, warnanya putih kekuningan gemerlap bagai batu karang. Jika dijentik bunyinya: Gong ambrengengeng. Tuahnya baik untuk menyimpan harta, serta ditakuti jin dan setan.
Ketujuhbelas jenis besi di atas tergolong besi yang baik digunakan sebagai bahan pembuatan senjata pusaka. Selain itu, ada juga jenis besi yang tergolong buruk. Besi yang dianggap buruk untuk bahan pembuatan keris dan tosan aji lainnya adalah besi Kanter, besi Malik, besi Kelengan dan besi Enuh. Jelas bahwa pembagian jenis-jenis besi di alas sama sekali tidak ada kaitannya dengan ilmu metalurgi. Bahkan bisa jadi, yang diistilahkan dengan besi oleh nenek moyang kita dulu tidak harus berarti besi (Ferrum) yang kita kenal sekarang.
Mungkin, beberapa jenis logam lain, juga disebut besi. berasal dari jenis tertentu. Kalangan empu ndesa yakni pandai besi di desa yang terkadang disuruh orang (desa) untuk membuat keris, menyebut adanya besi penawang. Menurut deskripsi yang mereka buat, besi penawang itu berwarna putih keperakan, mudah dilelehkan dengan cara pemanasan; bisa menempel pada bilah besi yang mem-bara. Bisa diduga yang mereka maksud besi penawang itu sebenarnya adalah timah putih atau aliasenya. Bagi empu ndesa besi penawang dianggap sebagai bahan pamor, tetapi para pecinta keris yang kritis pada umumnya tidak menganggap logam itu sebagai bahan pamor.


jenis besi keris

Sementara itu, di Sabah, Brunei Darussalam, jenis-jenis besi menurut ilmu perkerisan di daerah itu adalah raja besi untuk mereka yang menjadi pemimpin masyarakat, misalnya raja; besi aulia untuk para pemuka agama; besi tumanggung untuk para prajurit; dan besi bendahara untuk para pedagang.
Menurut ilmu pengetahuan modern, yang oleh orang awam dianggap sebagai mineral besi memang ada beberapa jenis. Masing-masing jenis mineral besi itu mempunyai rumus kimia dan sifat-sifat yang ber-beda, seperti disebutkan di bawah ini:
  1. Magnetit rumus kimianya FeO.Fe203. Kadar besinya sampai 72,4%. Berat jenisnya antara 4,9 sampai 5,2. Warnanya hitam kebiruan metalik dan bersifat sangat magnetik.
  2. Ilmenit rumus kimianya Fe20.Ti02. Kadar besinya sampai 38,8%. Berat jenisnya sekitar 5,0. Warnanya hitam metalik atau semimetalik dan bersifat magnetik lemah.
  3. Hematit rumus kimianya Fe,03. Kadar besinya sampai 10%. Berat jenisnya 5,2. Warnanya hitam sampai kelabu atau merah tua, kadang-kadang berwarna metalik kusam. Sifatnya tidak magnetik dan mineralnya berbentuk semi
  4. Hydrohematit rumus kimianya Fe2O3. Kadar besinya sampai 60%. Berat jenisnya 5,5. Warnanya merah menyala, atau kelabu gelap, kadang-kadang ada yang warna metalik.
  5. Geotit rumus kimianya Fe2O3H2O. Kadar besinya sampai 62,9%. Berat jenisnya antara 2,7 sampai 4,3. Warnanya kuning tua, kelabu tua, kadang-kadang coklat tut 6. Siderit, rumus kimianya FeCO2. Kadar besinya sampai 48,2%. berat jenisnya 3,8. Warnanya kekuningan, putih agak coklat mengkilat. Mineral ini berupa gumpalan-gumpalan hulat, berbentuk kristal, larut dalam asant sulfat.
BESI KEJEN atau Wesi Budo, adalah istilah tradisional untuk menyebut besi-besi tua yang ditemukan di dalam tanah. Biasanya besi tua itu adalah sisa-sisa alat pertanian, seperti bekas mata bajak, cangkul, atau arit yang sudah berumur ratusan tahun. Empu-empu yang berasal dari desa, sering memakai besi kejen ini sebagai bahan pembuatan keris atau tosan aji lainnya, karena besi semacam ini kadang-kadang bisa timbul pamornya, walaupun si empu tidak memakai bahan pamor. Di Malaysia, besi kejen yang mereka sebut besi jawi, sangat berharga.
BESI KUNING atau Wesi Kuning, adalah sebutan bagi senjata tradisional dan tosan aji yang terbuat dari campuran logam, sehingga menjadi senyawa logam berwama kuning. Besi kuning biasanya tidak berbentuk keris berpamor, namun dirupakan dalam bentuk menye-rupai keris berukuran kecil, bentuk cemeti-cemetian kecil, badik-badikan kecil, dan bentuk lain. Beberapa bentuk lainnya sama sekali tidak berujud senjata apa pun, melainkan lebih menyerupai jimat. Mengenai besi kuning ini orang-orang tua yang mengaku sebagai ahli tosan aji memberikan keterangan simpang siur. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa besi kuning merupakan campuran dari logam-logam emas, perak, besi, tembaga, nikel, perunggu, dan timah. Keterangan ini meragukan karena perunggu bukan logam mumi, tetapi sudah merupakan logam campuran. Menurut penelitian Haryono Arumbinang, MSc., besi kuning yang diteliti bersama kawan-kawannya di Laboratorium BATAN Yogyakarta, terdiri atas unsur-unsur besi, timah putih, perak, seng, timbal (timah hitam), tembaga dan emas. Di antara penggemar tosan aji ada yang percaya bahwa besi kuning memiliki kekuatan gaib yang membuat pemiliknya menjadi orang yang kebal terhadap segala macam senjata tajam. Namun secara ilmiah anggapan seperti itu sulit dibuktikan.

Sumber :  duniakeris.com

Pusaka Tosan Aji

Mengenal Tosan Aji, Senjata Pusaka Tradisional yang Digandrungi para Kolektor Seni 
Tosan Aji adalah istilah yang dipakai untuk menyebut berbagai macam senjata yang mengandung nilai eksoteris dan isoteri sehingga dianggap memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi sehingga dihormati dan lestarikan oleh masyarakat indonesia bahkan dunia.
tosan aji disebut juga dengan besi aji yaitu jenis senjata yang dianggap sebagai bagian darinya merupakan pusaka yang dibuat dengan seni tempa oleh pengrajin yang disebut dengan empu. saat proses pembuatan nya pun biasanya juga diiringi dengan laku spiritual untuk menambah daya magis dan kesaktian dalam bilah besi sehingga memiliki tuah supranatural yang dipercaya memiliki berbagai macam khasiat yang diharapkan memberikan manfaat bagi pemiliknya.
jenis tosan aji antara lain adalah keris tombak pedang rencong patrem golok kujang panah dan lain lain. keris merupakan salah satu nya yang dikenal sebagai warisan budaya nusantara yang bahkan diakui oleh dunia sehingga mendapatkan penghargaan dari unesco,  salah satu badan dibawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang bergerak dibidang kebudayaan.
Tosan Aji adalah senjata pusaka tradisional. Istilah ini merujuk pada segala macam senjata tradisional, yang terbuat dari besi dan dianggap sebagai Pusaka.

Secara umum tosan aji diciptakan tidak hanya sebagai senjata tapi juga sebagai sifat kandel bagi pemiliknya, Yaitu sesuatu yang dapat membangkitkan keberanian, keyakinan bagi pemilik tosan aji tersebut.

Tosan aji diciptakan untuk berbagai kebutuhan, contoh ada keris yang bisa dipergunakan untuk membantu pertanian, rentenir, untuk kekuasaan dan lain sebagainya tergantung energi dari sang pencipta keris untuk apa keris itu dibuat.

Makin tinggi tingkat spiritual dari sang empu makin hebat pula kekuatan keris yang diciptakan.

Namun sekarang ini, tidak semua keris diburu karena mempunyai kekuatan Mistis. Para kolektor keris berlomba lomba mengkoleksi keris, karena bentuk dan nilai sejarahnya.

Dedi haryono merupakan salah satu kolektor keris asal Mranggen, Semarang. Pria yang berprofesi sebagai guru matematika dan pramuka ini mengaku sudah mengkoleksi 30 macam keris.

Dedi sendiri menyukai keris sebagai pendukung edukasi ketimbang nilai magisnya.

Saat ditemui dalam acara pameran tosan aji yang diselenggarakan oleh para pecinta tosan aji Semarang (Peta Semar) hari Selasa (16/10/2018) di Hall Balai Kota Semarang, beliau mengatakan jauh jauh dari Mranggen ke balai kota Semarang hanya untuk mencari tambahan koleksi kerisnya.

“Semula suka karena berawal dari membaca artikel bahwa keris Pangeran Diponegoro ada di tangan Raja Austria saat ini, lalu saya berpikir kalau orang luar suka keris, berarti ada sesuatu yang istimewa dari keris itu sendiri. Lalu baru saya belajar sedikit sedikit, dari yang semula tidak tahu karena hanya pegang sama lihat, ternyata memang keris itu mempunyai sesuatu yang istimewa keris itu berbeda dengan senjata yang lainnya “  ungkap Dedi

Senjata seperti keris sebenarnya juga ada di berbagai tempat lain seperti Yunani yang mempunyai belati, lalu ada samurai dari jepang namun untuk jenisnya hanya ada beberapa saja.

Sedangkan di Indonesia utamanya di jawa keris sendiri ada bermacam macam mulai dari keris lurus, keris liuk 3 , liuk 5 sampai liuk 13 dan bahkan ada yang lebih lebih

Keris sendiri diciptakan oleh empu zaman dahulu, barang ini juga dijadikan sebagai metode pembelajaran karena pada waktu itu orang tidak suka budaya baca tulis, orang lebih suka budaya berkumpul. Sehingga para empu pada masa itu , menitipkan petuah petuahnya pada ricikan ricikan yang ada dikeris itu.

“Jadi bagi saya keris itu adalah filsafat hidup. Kalo saya pribadi, punya harapan ingin menghilangkan mistis sama anggapan bahwa kris itu adalah klenik atau keris itu mistis. Hal itu yang salah dari orang orang jaman sekarang. Orang luar negeri saja suka dengan keris, kenapa kita sebagai bangsa sendiri kurang menghargainya“, imbuhnya. (Bariqi Najman/Magang Undip)

Sumber: Tribunjateng.com